Model Stock-to-Flow Bitcoin: Akankah Kelangkaan Membantu Mempertahankan Nilai Jangka Panjang BTC?
Pasar mata uang kripto sedang dalam tahap awal dan mengalami pertumbuhan yang tinggi. Karena kebaruannya, investor dan trader telah mencari model penilaian jangka panjang untuk menentukan harga yang sesuai untuk Bitcoin dan kripto lainnya. Karena total pasokan Bitcoin terbatas dan diperkirakan akan ditambang pada tahun 2140, kita tidak perlu khawatir jika harga Bitcoin akan terus naik karena kelangkaannya yang mutlak. Salah satu model kuantitatif yang disebut model stock-to-flow tersebut mengukur nilai Bitcoin dan memprediksi harga Bitcoin dalam jangka waktu yang lama.
Kita akan melihat apa itu model stock-to-flow dan membuat perbandingan antara stock-to-flow Bitcoin dan emas. Kemudian, kami akan membuka model yang menggabungkan rasio stok-terhadap-aliran untuk Bitcoin dan memprediksi harganya. Terakhir, kita akan membahas beberapa masalah yang dapat mencegah model ini menjadi prediktor akurat masa depan Bitcoin.
Apa Itu Model Stock-to-Flow?
Stock-to-flow adalah model investasi yang mengukur stok aset saat ini terhadap tingkat produksi atau jumlah total yang ditambang selama setahun. Stock-to-flow digunakan untuk membandingkan kelimpahan atau kelangkaan relatif sumber daya tertentu.
Secara teori, jika sumber daya lebih langka — misalnya, logam mulia seperti emas, perak, atau platinum — maka besar kemungkinannya akan menjadi penyimpanan nilai yang lebih baik, yang berarti bahwa sumber daya tersebut harus mempertahankan nilai dan daya belinya dalam jangka panjang. Selain sumber daya alam, komoditas lain seperti real estat, saham, dan obligasi juga secara tradisional digunakan sebagai penyimpanan nilai.
Dapatkan informasi harian terkait dunia kripto dan perdagangan
Tidak Ada Spam. Hanya sekumpulan informasi yang menarik dan terkini dalam semesta kripto